MENYAMBUT TAHUN BARU ISLAM 1448 H

Khutbah Jumat

Oleh A. Salimin Dani, MA.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الزَّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ، فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُورِ وَالْأَيَّامِ واللَّيالي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يَعْظُمُ فِيهَا الْأَجْرُ وَالْحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سيدنا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ الْبِلَادِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ . وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Ma’asiral Muslimin.
Pergantian tahun Hijriyah bukan sekadar tanda pergantian angka tahun dari 1447 me jafi 1448 dalam kalender Islam.

Momen pergantian tahun ini menjadi ruang renungan bagi setiap Muslim untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui sekaligus menata arah langkah di masa mendatang.

Muharram hadir bukan hanya membawa suasana baru, tetapi juga mengingatkan bahwa usia terus berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.

Dalam Islam, pergantian tahun merupakan momentum muhasabah atau introspeksi diri. Setiap pergantian waktu mengajak manusia menimbang kembali amal yang telah dilakukan, memperbaiki kekurangan, serta menyusun ikhtiar agar kehidupan yang akan dijalani menjadi lebih baik dan lebih bernilai di hadapan Allah SWT.

“Memperingati Tahun Baru Hijriyah”. Menjadikan Muharram sebagai titik awal pembaruan diri secara lahir dan batin.

Jama’ah shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT. Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larang-Nya. Hanya dengan ketakwaan kita bisa mengisi hari-hari dengan amal kebaikan, dan dengan ketakwaan pula kita memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu meraih kebahagian hidup di dunia dan kebahagian hidup abadi di akhirat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah .
Tahun Baru sering dianggap sebagai waktu yang istimewa bagi banyak orang untuk merenungkan perjalanan hidup dan memulai babak baru.

Dalam Islam, momen ini dapat dimanfaatkan untuk muhasabah (introspeksi), memperbaiki kelemahan, dan menyusun resolusi yang lebih baik. Dari sudut pandang tasawuf, tersedia panduan mendalam yang dapat membantu umat Islam menyikapi perubahan ini dengan kesadaran spiritual dan makna yang mendalam. Tasawuf, yang berfokus pada penyucian hati dan mempererat hubungan dengan Allah, merupakan aspek penting dalam refleksi saat Tahun Baru.

Seorang Muslim dianjurkan untuk terus mengevaluasi diri, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah. Oleh karena itu, Tahun Baru dapat menjadi kesempatan berharga untuk menumbuhkan semangat baru dalam mendekatkan diri kepada Allah serta menjalani hidup yang lebih baik sesuai tuntunan Islam. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, Kami mengembalikannya dalam penciptaan. Maka tidakkah mereka berpikir?” (QS. Yasin: 68).

Ayat ini menerangkan gambaran atas siklus kehidupan manusia. Bagi orang-orang yang dipanjangkan umurnya, maka ia akan dikembalikan keadaannya seperti waktu bayi dan kanak-kanak karena lemah dan pikun. Jadilah ia tidak mengetahui apa-apa meskipun ia sebelumnya telah banyak pengalaman dan pengetahuan. Manusia terus mengalami siklus hijrah dan perubahan dalam hidup. Apalagi dalam setiap tahunya manusia pasti mengalami banyak perubahan dalam hidupnya makanya diperlukan upaya yang nyata dalam menghadapi persoalan setiap waktunya, masanya dan disesuaikan dengan kemampuan dan usianya. Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah SWT

Ada tiga hal yang penting kita renungkan di awal bulan Muharram atau tahun baru Hijriyah 1448 H. ini yang akan membantu kita lebih baik dalam menjalani kehidupan di tahun depan.

  1. Bersyukur
    Langkah awal adalah bersyukur karena sudah diberikan umur lebih lama oleh Allah SWT agar digunakan sebaik- baiknya untuk mengisi waktu hidup di dunia dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk dirinya dan berguna untuk orang lain.

Perbanyak kebaikan gunakan waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT sebaik-baiknya, tingkatkan ketaatan kepada Allah SWT dengan lebih rajin beribadah, jaga diri dari maksiat dan melakukan kedholiman kepada diri sendiri apalagi orang lain terus berupaya memperbaiki diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dan terus lebih baik. Allah swt berfirman:
وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَآ اَنْزَلَ رَبُّكُمْۗ قَالُوْا خَيْرًاۚ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌۗ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30)

  1. Muhasabah (introspeksi diri)
    Sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal salih. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender di rumah kita, namun merupakan peringatan bagi kita akan apa yang sudah kita lakukan pada tahun yang telah berlalu dan apa yang akan kita perbuat di hari esok.
  2. Mengenang Hijrah Rasulullah saw
    Peristiwa hijrahnya Rasulullah saw seyogyanya kita ambil sebagai pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari.

Peristiwa hijrah yang sudah 1448 tahun yang lalu ini banyak menyimpan makna dan nilai-nilai. Di antaranya adalah ketahanan beriman dan semangat menyebarkan Ruh al-Islam ke dalam berbagai aspek kehidupan, sebagaimana yang tergambar dalam perjuangan Rasulullah SAW dan para pengikut setianya. Setelah 13 tahun di Makkah mereka berjuang dengan mencurahkan tenaga, pikiran, harta benda dan bahkan nyawanya demi mejalankan misinya untuk mengeluarkan mereka dari peradaban jahiliyyah menuju cahaya peradaban Islam yang meliputi beberapa aspek ketuhanan, moral, hukum dll. Maka dengan upaya kerasnya kafir Quraisy menyakiti dan menyiksa para sahabat bahkan mengancam untuk membunuh Nabi SAW. Dengan bekal iman yang kuat para sahabat Muhajirin berhasil melewati masa-masa sulit yang selalu mengancam jiwanya. Selanjutnya mereka di Madinah memulai babak kehidupan baru beserta Nabi SAW. Nah, di sini beliau terus menyebarkan Ruh al-Islam ke dalam setiap individu masyarakat Madinah sampai kemudian mereka memiliki kepribadian muslim bahkan mereka adalah khaira ummah. Sebagaimana yang difirmankan Allah:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran ayat 110)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *